Geliat Misonaris Cilik yang Semakin Terancam

  • Whatsapp
Maria Loka dan Albertus Muda berpose bersama anak-anak setelah bersukacita bersama anak-anak dalam gerak dan lagu

LEWOLEBA – Sejak bulan Maret 2020 bangsa Indonesia mulai berjuang melawan penyebaran virus korona dan perjuangan itu masih berlangsung sampai sekarang.

Virus korona yang telah memakan banyak korban jiwa itu telah mengubah cara bekerja, beribadah, belajar dan berbagai aktivitas hidup yang lain.

Read More

Salah satu cara agar masyarakat tetap dapat beraktivitas dan tidak terpapar virus tersebut, pemerintah telah mengajak untuk memasuki kenormalan baru (new normal). Segala dinamika hidup harus selalu berpedoman pada protokol kesehatan.

Pandemi covid-19 benar-benar menjadi pembatas yang menyempitkan ruang gerak seluruh manusia di belahan bumi manapun termasuk masyarakat Lembata.

Pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah masih berada di bawah bayang-bayang covid-19. Demikian juga kerja di kegiatan ritus kultis masih dilaksanakan dalam pembatasan dan penuh kewaspadaan.

Tidak semua orangtua yang datang ke tempat-tempat ibadah yang biasanya disesaki dengan kehadiran umat.
Lebih memprihatinkan anak-anak usia 6 sampai 12 tahun. Mereka seolah tersekap di rumah masing-masing karena tidak diperkenankan menghadiri perayaan Ekaristi di Gereja.

Hal yang sama terjadi di sekolah. Jam sekolah harian dijadwalkan dengan sistem shift sehingga dalam seminggu anak-anak tidak mengikuti pembelajran di sekolah secara penuh.

Jika sekolah dan ke gereja ruang gerak anak-abak dibatasi demi mengantisipasi penyebaran virus covid-19 maka anak-anak semakin terancam.

Keakraban mereka dengan suasana doa yang khusuk dan perayaan ekaristi perlahan semakin tak dihayati karena mereka tidak intensif menghadiri ruang liturgis ini demi memperdalam iman mereka.

Apalagi diperparah dengan tidak dibiasakan kepada anak-anak untuk belajar dan berdoa di rumah pada jam-jam tertentu sesuai jadwal belajar mandiri di rumah.

Keprihatinan kepada anak-anak mendorong Maria Loka selaku Ketua Seksi Liturgi Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo-Lembata-NTT bersama Albertus Muda selaku penyuluh non PNS Kabupaten Lembata-NTT mengajak anak-anak di sekitar lokasi tempat tinggal untuk merayakan Hari Minggu Misi Sedunia yang dirayakan setiap tahunnya.

Tahun ini peringatak Hari Minggu Misi Sedunia ke-93 jatuh pada hari Minggu (18/10/2020).

“Sebelumnya pada masa normal, perayaan ini dirayakan secara meriah oleh anak-anak untuk meningkatkan kepekaan mereka kepada teman dan sahabat, penghargaan terhadap hak dan martabat teman-teman dan juga mewujudkan sikap solider kepada sesama yang sangat membutuhkan,” kata Maria Loka di secretariat Permata Lembata.

Maria Loka mengajak anak-anak yang hadir merayakan hari Minggu Misi agar meskipun sedang dalam masa pandemi covid-19 tetapi anak-anak hendaknya tetap memberikan senyum manis kepada teman satu sama lain.

“Menjadi misionaris cilik bukan berarti harus pergi ke luar negeri seperti mengelilingi benua Asia, Australia, Afrika, Amerika dan Eropa. Menjadi misionaris saat ini hendaknya dilakukan di tengah keluarga bersama orang tua, kakek nenek, kakak adik, om tanta, juga di sekolah dan tempat bermain seperti bersama bapak ibu guru dan teman-teman di sekolah juga teman bermain setiap hari. Jadilah misionaris cilik sejati dan menjadi sahabat Tuhan Yesus,” pesannya.

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Misi sedunia. Seluruh umat beriman Katolik diajak untuk menanggalkan egoisme dan berani keluar dari kungkungan keegoan diri dan pergi menjumpai sesama saudara yang lainnya yang sangat membutuhkan sentuhan dan perhatian kita.

Semangat 2D2K yang merupakan singkatan dari Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian mesti terus digelorakan dalam diri anak-anak SEKAMI (Serikat Kerasulan Anak Misioner) dan menjadi senjata utama bagi seorang misionaris cilik dalam bermisi ke manapun.

Menurut Maria Loka, kondisi dan ruang gerak anak-anak di era new normal menjadi sangat dibatasi sampai kepada hak anak mendapatkan pendidikan juga sangat dibatasi ruang gerak mereka.

“Kita mengajak orang tua agar jangan sampai membuat anak-anak mengalami suasana tertekan. Orang tua mestinya membuka ruang bagi anak-anak di rumah untuk bermain agar menyalurkan kreatifitasnya. Buat mereka tertawa dan mengalami sukacita sebagai anak. Anak-anak yang belum punya fasilitas bermain tentu sangat terpinggirkan,” ungkapnya.

Maria Loka juga menegaskan, di masa pandemi covid-19 ini, para orang tua meskipun fokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi tetap memperhatikan terpenuhinya hak-hak anak.

“Dalam pengamatan kami, hak anak-anak terabaikan bahkan banyak anak mengalami kekerasan dalam keluarga sehingga tumbuh kembang mereka menjadi dangat tergaganggu. Hari ini kita mengajak anak-anak untuk mengungkapkan rasa sukacita mereka lewat gerak dan lagu,” ujarnya.

Kepada orang tua Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Permata lembaga yang menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan Lembata ini mengajak agar anak-anak dilatih untuk berdoa bersama orang tua di keluarga masing-masing.

Jadikan suasana rumah yang benar-benar “at home” agar di masa paceklik pandemi covid-19 ini anak-anak tetap mengalami bahwa hak-haknya sebagai anak sungguh diperhatikan.

Menurutnya, acara yang dirancang dengan sangat sederhana tersebut ternyata membuat anak sangat gembira, bersukacita.

Meskipun hanya sebagian anak namun apa yang anak-anak  alami hari ini yang mungkin selama ini tidak mereka alami di rumah mereka membuat mereka sungguh menikmati acaranya.

“Hari ini menjadi kesempatan bagi kelompok bina iman anak bangkit kembali dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” pungkasnya.

Menyinggung soal kehidupan remaja di masa pandemi covid-19 yang semakin memprihatinkan aktivis perempuan Lembata ini mengatakan, meskipun pandemi terus merajalela tetapi frekuensi pergaulan bebas anak remaja pun semakin meningkat. Semoga para orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi untuk mencegah hal ini. (*)

Related posts